“Aku bersyukur dilahirkan di Indonesia, dimana senyum masih menjadi karakter, budaya masih apik terjaga, dan optimisme masih menyulut semangat. Aku berharap, anak-anakku kelak harus lebih bangga dariku dalam memandang dan memperjuangkan Indonesianya. Jaya Selalu Negeriku Indonesia, Jayalah Selama-lamanya”

Pemikiran Politik Plato


(haryoprasodjo@ymail.com)
 
Plato memiliki banyak tulisan, diantaranya terdiri dari 35 dialog dan 13 surat, yang mana dalam 35 dialog tersebut, Plato membaginya ke dalam tiga bagian utama, yaitu Awal, Pertengahan, dan Akhir. Dimana dialog pertengahan dan terakhir merefleksikan pembentukan filsafatnya. Beberapa judul dari dialog pertengahan Plato yang terkenal antara lain Gorgias, Meno, Apology, Crito, Phaedo, Symposium, Repiblic. Adapun beberapa judul tulisan dari dialog akhir Plato adalah  Statesman, The Theaetus , Promenades, Sophist, Philebus, Timaeus, The Laws. Lebih dari itu, tulisan-tulisan Plato tidak hanya mengenai politik, namun juga mengenai berbagai macam aspek dalam kehidupan manusia seperti, Metafisika, Filsafat moral, Pendidikan, Politik, dan Ekonomi. Adapun beberapa bentuk pemikiran dari Plato adalah dalam hal Metafisika, Etika, Pendidikan, dan Pemerintahan. Tulisan terkenal dari Plato adalah Republik yang terbagi dalam 10 buku. Adapun pembagiannya sebagai berikut, buku I mengenai kehidupan manusia, dasar dari keadilan dan moral. Buku II dan IV menjelaskan organisasi negara, sistem pendidikan, masyarakat ideal, perencanaan tiga elemen dalam dasar kehidupan ( keinginan, semangat, alasan ), karakteristik negara yang ideal. Buku V – VII perencanaan negara yang ideal mengacu pada sistem yang berlandaskan komunisme. Buku VIII dan IX membicarakan mengenai anarki dan kekacauan saat individu dan negara sama-sama tersesat. Buku X  bagian I berhubungan dengan filsafat seni dan bagian II membicarakan kapasitas dari soul (soul). Mengenai metode pemikirannya, Plato menggunakan metode filsafat deduktif, dengan metode analitik berbasiskan ide untuk melihat fenomena. Saat berbicara tentang human nature Plato menjabarkannya kedalam tiga hal utama yaitu  : keinginan, semangat, dan rasionalitas.Adapun tentang Body politic menurut Plato: keinginan dalam menciptakan kelas, dimana kelas tersebut dibagi ke dalam tiga kelas utama yaitu Semangat yang kuat dalam militer, Pekerja yang bertindak berdasarkan pertimbangan, Pemimpin yang bijaksana.  

Teleologi menurut Plato adalah objek dengan tujuan, yang mana dalam aplikasinya, Plato menggunakan metode deduktif untuk melihat berbagai fenomena dan mengekspresikan filsafatnya. Selain menggunakan Metode Deduktif, Plato juga menggunakan metode analogi dalam filsafatnya. Pondasi Filsafat Teori Politik Plato, Berbasis pada pemikiran Socrates yaitu kebijaksanaan/ kebaikan , sebagaimana Kebijaksanaan adalah bagian dan dapat dicapai melalui  ilmu pengetahuan. Mengenai 4 elemen dalam diri manusia, Plato mengemukakannya dalam hal akal, keebranian, kesederhanaan, dan keadilan. Sedangkan Raja adalah sebuah navigator yang juga harus pandai akan seni dan dapat memimpin seluruh kelas yang ada dalam masyarakat. Saat berbicara tentang teori mengenai ide, Plato mengemukakan bahwa ilmu pengetahuan yang berbasiskan pada ide. Menurut Plato Ilmu poengetahuan dapat dicapai dan memiliki dua karakteristik, yang pertama adalah pasti dan kedua adalah sempurna (mutlak). Adapun sifat dasar dari karakteristik teori Plato :
            - Perbedaan antara Form or Idea
            - Knowledge and Appreance
            - Bentuk akhir berupa fisik
            - Actual wold can attain the ideal world
            - Knowledge can replace opinion and is attainable
            - The visible world is the shadow of the real world
            - Apa yang terlihat bukanlah bentuk, namun bentuk dari sebuah bentuk

Keadilan Menurut Plato
Keadilan bukan sekedar ketaatan teradap hukum, namun keadilan berada jauh dalam jiwa setiap manusia. Keadilan menurut Plato juga tidak lepas dari konsep moral, yaitu sesuatu yang mengikat masyarakat secara bersama. Keadilan tidak hanya sebatas pada masalah hak dan kewajiban namun lebih jauh dari pada hal itu, keadilan juga berhubungan erat dengan etika sosial. Keadilan menurut Plato adalah saat seseorang membatasi dirinya pada kerja dan tempat dalam hidup yang sesuai dengan kecaapannya, yaitu bagaimana setiap orang dalam masyarakat melakukan apa yang harus semestinya dilakukan (berperan sesuai posisi).

Dasar Dari Karakteristik Plato’s Nation
Adapun dasar dari karakteristik negara menurut Plato adalah dimana keadilan adalah nama lain dari kebajikan. Performance dari kewajiban sesuai dengan yang dijalani oleh hak yang dimiliki. Dimana kontribusi individu dalam society sesuai dengan kemampuan, kapasitas, dan kecakapan/ keahlian  yang dimiliki oleh individu tersebut.  Social morality (moral sosial) menurut Plato adalah kewajiban setiap manusia, yang mana bentuk sosial yang kuat akan mempengaruhi sistem sosial yang ada dalam masyarakat tersebut. Menurut Plato, keadilan juga disebut sebagai “Mengerjakan sesuatu yang pantas”. Plato merupakan tokoh pemikir yang paling lama dan mungkin yang pertama yang mengemukakan pendapat mengenai “komunisme”, diaman Plato memiliki pemikiran tentang meniadakan kepemilikan property dan hubungan keluarga yang nantinya akan dikembalikan kepada dimensi komunitas (negara). Hal tersebut sebagai upaya Palto dalam mengembalikan masyarakat pada struktur aslinya yang tidak terikat oleh sesuatu apapun. Hal ini terkait dengan pertanyaan “apa yang membuat manusia berkonflik?”, sumber konflik biasanya hadir dari perebutan masalah property (hal ini juga akan saya tuliskan pada sub selanjutnya).  

Perbedaan Komunis Plato dan Marx
Adapun beberapa perbedaan karakteristik dari komunisme menurut Plato dan Marx adalah sebagai berikut:
-         -  Plato : objeknya adalah politik sebagai solusi dari ekonomi untuk membenahi politik
-        -   Marx : objeknya adalah ekonomi sebagai solusi dari politik untuk membenahi ekonomi
-        -   Plato : penerapan kelas dalam dua, penguasa dan pekerja
-        -   Marx : penerapan kelas kepada seluruh masyarakat
-       - Plato : godaan diri manusia terhadap kepemilikan benda secara individu sedangkan Marx munculnya manusia yang serakah karena kepemilikan barang pribadi
-      - Plato: dengan kepemilikan wanita dan barang oleh negara, maka penggunaan kekuatan politik tidak akan memiliki motif ekonomi, dengan tidak mengikutsertakan aktifitas ekonomi,  maka ekonomi tidak akan mempengaruhi politik
-          Dengan kepemilikan wanita oleh negara, maka menungkinkan akan terdapat 1000 anak seribu ayah, satu ayah 1000 anak
-          Negara menjadi aktor yang mengatur
-          Memerdekakan individu dari kesengsaraan dan tekanan dari masyarakat yang ditunggangi faktor-faktor yang menyimpang dan untuk memberikan individu tempat berlindung (Nisbet, The Sosial Philosopher 9-10)

  Menurut Marx, pad ahakikatnya manusia tidak memilik apa-apa, maka tidak merasa memiliki apa-apa. Saat manusia tidak mengetahui apa-apa maka tidak akan ada konflik yang terjadi, karena pada dasarnya konflik terjadi karena adanya rasa memiliki sesuatu oleh setiap individu.
Pemerintah Ideal dan Negara Ideal Menurut Plato
Adapun karakteristik negara ideal menurut Plato adalah dimana terdapat kelas umum (memproduksi, pekerja), penjaga, pemerintah (penguasa) sesuai dengan kapasitas dan kemampuan individu yang ada. Pemimpin yang memimpin masyarakat adalah yang terbaik dari masyarakat tersebut dan mendapat pendidikan terbaik.  Menurut Plato, negara tidak boleh dipimpin oleh orang tanpa kapasitas karena hal tersebut akan menajdikan negara tersebut lemah. Negara dipimpin oleh seseorang yang memahami prinsip kebajikan (virtue) atau yang disebut sebagai Raja Filsuf (the philosopher king). Yang mana pemimpin dengan kriterita tersebut, akan dengan mudah dapat mengidentifikasi berbagai macam masalah sosial, mengatasi dan mencari solusi. Adanya pembagian kerja dalam struktur masyarakat adalah sebagai konsekuensi dari perbedaan alami dari bakat yang berbeda yang ada pada individu.  Namun menurut Robert Nisbet apa yang dikemukakan oleh Plato merupakan sebuah pemikiran dari  Nihilisme Sosial
 Posisi Plato Dalam Teori Politik Barat
Plato merupakan bapak dari filsafat, politik, dan idealisme dalam sastra. Tulisan-tulisannnya dibetuk dari pengalaman hidup dan pemikirannya telah menghubungkan antara politik dengan filsafat. Telah memberikan inspirasi dalam pandangan filsafat politik anti materialistis, rekonstruksi teori politik, program politik radikal yang muncul setelahnya




- Western Political Thought (From Plato to Marx), Indhira Gandhi National Open University School of Social Science






 







Tidak ada komentar:

Posting Komentar