“Aku bersyukur dilahirkan di Indonesia, dimana senyum masih menjadi karakter, budaya masih apik terjaga, dan optimisme masih menyulut semangat. Aku berharap, anak-anakku kelak harus lebih bangga dariku dalam memandang dan memperjuangkan Indonesianya. Jaya Selalu Negeriku Indonesia, Jayalah Selama-lamanya”

Segitiga Konflik Johan Galtung



              Konflik biasanya mudah dilihat di permukaan saja, seperti jumlah korban yang ditimbulkan atau cara kedua belah pihak berkonfrontasi secara langsung. Untuk itu dibutuhkan pemetaan untuk mengetahui pihak-pihak yang terlibat konflik serta hal yang melatarbelakanginya. Selain pemetaan tersebut  konflik juga bisa di lihat melalui pendekatan teori bawang merah, segitiga konflik dan garis waktu yang menceritakan perkembangan eskalasi konflik.

         Menurut Atman dan Taylor (teori komunikasi, 1994): Hubungan kita dengan orang lain ibarat mengupas bawang merah yang terdiri dari beberapa lapisan. Selama dalam proses interaksi, kita saling mengupas lapisan-lapisan itu. Jika yang kita kupas hanya lapisan saja, maka kita hanya mendapatkan lapisan saja.

        Dalam konflik, teori bawang merah berupaya untuk mengetahui permasalahan yang terjadi di permukaan, dan selanjutnya terus dikupas untuk mengetahui akar permasalahn sesungguhnya. Apakah sebenarnya tujuan konflik itu dari ekonomi ataukah ada kepentingan lain yang lebih besar. Hal ini bisa diraba dengan melakukan beberapa wawancara dan sumber data.

           Segitiga konflik berfungsi untuk mengetahui gejolak konflik yang terlihat dan yang tidak terlihat. konflik yang terlihat adalah proses terjajdinya kekerasan itu sendiri serta dampak yang ditimbulkan. Gejolak konflik yang tidak terlihat antara lain disebabkan oleh kekerasan budaya dan kekerasan structural. Kekerasan budaya bisa berupa hokum adat, mitos, anarki, suku serta kebencian kuno, sedangkan kekerasan structural bisa berupa kemiskinan dan kebudayaan.


           Teori garis waktu adalah untuk mengetahui perkembangan konflik dari waktu ke waktu. Setiap konflik mempunyai cataan sejarah. Sejarah itu bertujuan memudahkan untuk menyusun laporan karena memiliki latar belakang.

Teori Segitiga Konflik dan Analogi Konflik Bawang Bombay

        Menurut Johan Galtung, teori segitiga konflik. Dia mengatakan bahwa konflik dapat dilihat sebagai sebuah segitiga, dengan kontradiksi sikap (A) dan perilaku (B) pada puncak-puncaknya.[1]

Gambar 1
Segitiga Konflik Johan Galtung
                                                                     
Kontradiksi


 



         Melalui segitiga konflik ini, kita bisa melihat bahwa dalam sebuah konflik yang tidak simetris, kontradiksi ditentukan oleh pihak–pihak yang bertikai, hubungan mereka, dan benturan kepentingan inheren antara mereka dalam berhubungan. Sikap yang dimaksud termasuk persepsi pihak-pihak bertikai dan kesalahan persepsi antara mereka dan dalam diri mereka sendiri. Jadi, ketika ada perbedaan persepsi atau ketidaksesuaian antara sikap dan perilaku dapat dikatakan terjadi sebuah konflik. Selain itu, Fischer mengatakan bahwa konflik adalah huhungan antara dua pihak atau lebih (individu atau kelompok) ya ng naerniliki, atau yang merasa memiliki, sasaran-sasaran yang tidak sejalan. Dalam perilaku konflik, ada yang dinamakan sebuah konflik laten, ketika konflik tersebut sifatnya tersembunyi dan belum diangkat ke permukaan.[2]

         Di sisi lain, analogi alat bantu teori konflik bawang bombay dapat digunakan untuk menjelaskan bagaimana potensi konflik terjadi akibat reldamasi yang dilakukan oleh Singapura. Analogi bawang Bombay dibuat berdasarkan analogi sebuah bawang bombay dan lapisan-lapisannya. Lapisan terluar merupakan posisi-posisi kita di depan umum, yang dapat dilihat dan didengar oleh semua orang. Lapisan pokok yang kedua adalah kepentingan kita, yaitu apa yang ingin kita
capai dari suatu situasi tertentu. Lapisan terakhir yang merupakan inti adalah kebutuhan kebutuhan terpenting yang perlu kita penuhi. Analisis ini dilakukan pada kedua belah pihak.[3]

Dalam analogi konflik bawang bombay, potensi konflik dijelaskan dalam lapisan-lapisan posisi, kepentingan, dan kebutuhan.



Gambar 2
Gambar Analisa Potensi Konflik Bawang Bombay[4]




 





                                                                                                                 




[1] Miall, Hugh, Ramsbotham, Oliver, dan Woodhouse Tom. 2000. Resolusi Damai Konflik Kontempore r, Menyelesaikan, Mencegah, Mengelola, dan Mengubah Konflik Bersumber Politik, Sosial, Agama, dan Ras. (terj.) Jakarta: Grafindo Persada. Hal.20-21
[2] Fischer, Simon dkk. 2001. Mengelola Konflik, Ketrampilan dan Strategi untuk Bertindak (terj.). Jakarta: British Council. Hal.6.
[3] Ibid. hal.27
[4] Lapisan-lapisan dalam analisa bawang Bombay adalah lapisan yang bukan menjelaskan mengenai kedalaman sesuatu, akan tetapi lebih merupakan lapisan-lapisan yang membedakan antara posisi, kepentingan, dan kebuuhan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar